Bengkala yang Sepi Tapi Berprestasi
Desa ini memang sepi, karena sebagian penduduknya bisu tuli. Tapi mereka sarat prestasi. Warga Desa Bengkala di Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali, akhirnya menyadari bahwa keterbatasan fisik bukan untuk diratapi tetapi untuk diperjuangkan. Tak heran bila dalam pelaksanaan program Pilot Kesehatan dalam PNPM Mandiri Perdesaan 2006-2007 (kala itu PPK, red) desa ini menjadi salah satu yang terbaik kinerjanya, seperti dikutip Majalah Tempo Bahasa Inggris Edisi 23 Juni 2008. Padahal, sebagian penduduknya mengalami cacat bisu tuli permanen, namun mereka terbukti berprestasi. Desa ini dihuni oleh 2.730 jiwa atau 687 Kepala Keluarga (KK), dimana sekitar 41 KK menyandang cacat bisu-tuli permanen. Sebagian besar mereka memiliki mata pencaharian sebagai buruh tani. Disana, ada tiga jenis bahasa yang dipergunakan, yakni bahasa daerah, bahasa Indonesia, juga bahasa isyarat. "Namun bahasa yang lebih familiar di lingkungan tersebut adalah bahasa isyarat. Dan rata-rata masyarakat disini mengerti bahasa isyarat tersebut," ungkap Made Artika, Kepala Desa Bengkala.
Dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan, warga desa Bengkala telah mendapatkan bantuan berupa pengadaan sarana air bersih (SAB), posyandu, Pemberian Makanan Tambahan (PMT), beasiswa bagi anak-anak dengan orangtua kurang mampu, pembuatan saluran drainase desa, serta kegiatan ekonomi dengan menerima pinjaman bergulir untuk sejumlah kelompok Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPP). "Meski bisu-tuli, mereka memegang peranan penting dalam menyukseskan setiap rangkaian kegiatan PNPM di desa," ungkap Artika.
Menurut Artika, warga yang bisu-tuli tergolong pekerja keras, ulet, tekun dan bertanggungjawab. Disamping kegiatan pembangunan, mereka sangat aktif pada kegiatan-kegiatan social. Bahkan, mereka membentuk perkumpulan kesenian Janger dan aktif melakukan pementasan. Mungkin Anda akan bertanya, bagaimana mereka bernyanyi untuk pementasan janger tersebut? Pertanyaan serupa muncul tatkala pertama kali fasilitator PNPM Mandiri Perdesaan melakukan sosialisasi disana, bagaimana keinginan/ usulan mereka dapat tersampaikan?
 |
Salah satu warga bisu tuli yang aktif pada PNPM Mandiri adalah Wayan Getarika (55 Th). Duda dengan empat orang anak yang semuanya terlahir bisu-tuli ini, menjabat sebagai tenaga teknis perpipaan untuk SAB yang dibangun masyarakat dengan dana PNPM Mandiri Perdesaan. Wayan dipilih masyarakat karena kemampuannya dalam bidang teknis perpipaan. Selain itu, kakek enam cucu ini memiliki tanggung jawab lain yang tak kalah penting di desanya. Wayan, misalnya merupakan Pan Swakarsa Desa. Dia juga ditunjuk menjadi pemimpin kelompok kesenian janger desa tersebut dan memiliki citarasa seni yang tinggi. Dengan kemampuannya itu, meski menyandang bisu-tuli permanen, namun Wayan Getarika menjadi panutan dan disegani di desanya. Selain Wayan, terdapat sepuluh warga bisu-tuli lainnya yang aktif sebagai panswakarsa, yang bertugas untuk menjaga keamanan lingkungan desa. Mengingat banyaknya anggota masyarakat yang menyandang bisu-tuli di desa tersebut, maka peran Kepala Desa disana sangat penting. Made Artika, selaku Kepala Desa Bengkala, memiliki kiat khusus untuk merangkul warganya yang menyandang bisu-tuli tersebut. Menurutnya, upaya memberikan kesempatan yang sama kepada mereka seperti orang normal lainnya, sangatlah penting. “Untuk itu, kami harus lebih mendalami bahasa isyarat agar dapat berkomunikasi dengan mereka,” ungkap Artika.
Artika menyatakan, setiap musyawarah yang digelar PNPM Mandiri Perdesaan, bahasa isyarat menjadi salah satu keharusan selain bahasa daerah. Hal ini pada gilirannya berguna untuk menggali usulan kegiatan/ kebutuhan warga penyandang bisu-tuli. Menurut Artika pula, pendidikan untuk warga bisu-tuli menjadi prioritas. Oleh sebab itu, program desa berupaya memberikan prioritas beasiswa bagi pendidikan anaka-anak penyandang bisu-tuli. “Di sekolah-sekolah di desa ini, kami juga mengangkat guru khusus yang mengerti bahasa isyarat,” imbuhnya.
Secara umum, kualitas kegiatan yang dihasilkan dan dikerjakan oleh warga desa Bengkala, rata-rata baik, seperti pekerjaan orang normal. Hampir tidak pernah terjadi konflik diantara warga disana. Hal itu karena keterbukaan dalam pengelolaan dana di desa itu terbilang sangat bagus. Mereka, baik yang normal maupun penyandang bisu-tuli, selalu didiskusikan segala kegiatan dan pengelolaan dana secara bersama-sama. Termasuk soal upah, baik upah untuk kegiatan pembangunan sub-proyek PNPM Mandiri Perdesaan di desa itu maupun upah dari hasil menari janger dan buruh tani. Forum musyawarah, partisipasi dan kebersamaan yang diusung PNPM Mandiri Perdesaan telah mendarah daging pada masyarakat disana. Mereka biasanya berdiskusi dan tidak menunda-nunda waktu untuk membagi hasil yang diterima secara terbuka. Pada umumnya mereka bekerja secara kelompok.
Catatan :
Made Artika yang dimaksud adalah Made Astika, Prebekel desa Bengkala
Sumber : www.ppk.or.id